Kapan hijrahnya?

Ada permintaan. Ada juga yang sekedar bertanya. Ada yang menunggu kabar beritanya. Kapan aku membuat keputusan? Kapan pula aku akan meninggalkan sekolah yang sudah menjadi tempat kerjaku sekian tahun lamanya? Lebih konyol, kapan kepala sekolahnya dipindahkan?

Sudah menjadi wacana yang berkembang di sekolah, betapa aku seorang guru biasa menjadi musuh utama bagi kepala sekolah.Perlu aku luruskan, yaitu aku selalu dimusuhi kepala sekolah. Seperti seorang pemain drama, peran yang aku ambil adalah peran antagonis yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari kepala sekolah. Entah apa dosa yang aku perbuat, sikap dan perlakuan kepala sekolah sudah tidak nyaman sejak pertama kali dia datang memimpin sekolah ini sejak  dua tahun yang lalu.Persoalan ini menjadi tidak biasa. Semua orang mendengar ceritanya.

Kepala sekolah dan pimpinan sekolah pernah menyiapkan surat pengunduran diri untuk aku, yakni agar aku tidak usah repot-repot. Aku diminta segera menandatangani saja.

Menjaga hidup tetap bermakna

Ada banyak cobaan dalam hidup ini. Kita sering lupa menyadari, bahwa dalam keadaan susah maupun senang, kita sedang menjalani ujian atau cobaan dari Sang Pencipta. Lebih sering kita beranggapan bahwa hanya pada saat mengalami kesusahan saja kita ini sedang diuji. Padahal, senang atau susah, kita pasti diuji.

Kesedihan jangan membuat kita bingung. Kesusahan jangan mengaburkan tujuan kita untuk selalu menghambakan diri kepada yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Sebaliknya, apabila kita sudah mendapatkan limpahan kesenangan dalam hidup ini, jangan lupa untuk selalu bersyukur dan selalu tahu darimana asal mulanya kebahagiaan yang kita dapatkan. Terlalu percaya diri dengan begitu yakinnya bahwa semua yang kita dapatkan adalah karena usaha pribadi sungguh merupakan kesalahan yang besar. Kita hanya sedang mendapatkan titipan yang nantinya pasti akan dimintai pertanggungjawaban.

Tidak usah bersedih hati bisa kita sedang mengalami kesusahan, sebab kalau kita betul-betul yakin, Allah akan selalu membantu kita memperbaiki nasib. Allah itu Maha Rahman dan Maha Rahim. Allah mendengarkan bisikan dan desah nafas kita. Kesedihan tidak untuk diratapi. Kita masih harus tetap menjalani hidup ini dengan mengetahui posisi kita sebagai makhluk yang lemah di hadapan Allah. Hanya Allah yang Maha Kaya dan yang akan mengabulkan semua permintaan kita jika kita mau memohon pertolonganNya. Siapa lagi yang lebih berkuasa dibandingkan Allah?

Sementara kita diuji dengan kecukupan jangan membuat kita lupa diri dan sombong. Siapa yang sudah memberikan kebahagiaan itu kepada kita? Selalu tetap rendah hati akan menjadikan kita selamat. Hidup kita bisa bermanfaat bagi sesama. Kita harus berusaha semampu kita untuk berguna bagi sesama.

 

Merasa sebagai manusia

Aku sendiri gak habis pikir. Apa benar dia itu orang yang punya perasaan? Setiap kali ada berita berkaitan dengan orang itu, selalu saja nadanya negatif. Banyak orang yang tidak suka dengan gayanya. Mengapa? 

Berurusan orang berjenggot ini memang menyakitkan. Aku baru tahu. Kesombongan saja yang tampak dari setiap ucapan dan tindakannya.Orang lain seperti tidak terlalupenting baginya. Begitu persoalan kerja atau urusan sosial melibatkan orang itu, terdengar cerita sumbang yang tidak membuat kita bisa mengambil pelajaran. Sumpah serapah saja yang keluar untuk dia yang merasa sebagai manusia serba bisa.Super kali!

Meminta email dan password

Dalam era sedemikian rupa majunya, pikiran pribadi seseorang tidak selalu terkatrol ikut maju dan bisa mengenal seluk beluk internet. Terlalu banyak orang yang buta sama sekali tentang masalah internet. Tidak terlalu mengherankan apabila di dunia kerja pun--di kantor atau di perusahaan, banyak orang yang belum melek masalah internet. Di lembaga pendidikan juga tidak jarang orang merasa kikuk dan membutakan diri, tidak mau mengenal perkembangan teknologi informasi.